Ustadz Dikursi Walikota : Rakyat Subulussalam Menegur dengan Cinta, Bukan Membenci

* Masyarakat Berharap Pemimpin Baru Tetap Lurus Dijalan Allah, Agar Keulamaannya Tidak Luntur Karena Kekuasaan

FAKTUALONLINE.co.id *
SUBULUSSALAM

Sejak awal masa kepemimpinannya, masyarakat Kota Subulussalam mulai menyampaikan suara hati kepada Walikotanya yang baru-seorang Ustadz dan Pimpinan Pondok Pesantren ternama di Wilayah Singkil-Subulussalam.

Mereka menegur bukan karena benci, melainkan karena cinta dan harapan agar sang pemimpin tetap lurus di jalan Allah, tidak tergoda oleh kekuasaan dan kepentingan duniawi.

“Beliau Ustadz kami, guru kami juga. Tapi sekarang beliau pegang amanah sebagai walikota, tanggung jawabnya lebih besar,” ujar seorang warga Subulussalam Timur, Rabu (03/10/2026).

“Kalau lurus kepemimpinannya, maka pesantren dan dakwahnya akan makin dikenal. Tapi kalau tergelincir, maka reduplah cahaya keulamaannya.”

Pandangan serupa juga disampaikan seorang warga Sikalondong. Ia berharap sang Walikota tetap sederhana dan terbuka seperti sebelum menjabat.

“Kami ingin beliau tetap jadi ustadz yang menyejukkan, bukan pejabat yang jauh dari rakyat. Jabatan walikota itu sementara, tapi nama baik ulama abadi,” ucapnya.

Kisah rakyat yang menegur pemimpinnya sudah ada sejak masa Khalifah Umar bin Khattab. Dalam sejarah Islam diceritakan, seorang perempuan pernah menegur Umar dihadapan banyak orang:

“Wahai Umar, takutlah kepada Allah! Jika engkau menyimpang, kami akan meluruskanmu dengan pedang kami!”

Khalifah Umar tidak marah. Ia justru bersyukur seraya berkata:

“Segala puji bagi Allah yang menjadikan rakyat Umar masih mau meluruskan Umar bila ia salah.”

Dari kisah itu, masyarakat Subulussalam belajar bahwa nasihat kepada pemimpin adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar, dan tanda kasih sayang umat kepada penguasanya.

* Rakyat Tidak Ingin Menunggu Akhir Jabatan

Beberapa tokoh masyarakat menilai, menegur diawal kepemimpinan jauh lebih bermakna ketimbang menegur di akhir masa jabatan, karena di saat itu semuanya sudah terlambat.

“Kalau dinasihati di ujung jabatan, itu bukan menyelamatkan, tapi menjerumuskan,” kata seorang warga.

“Menegur diawal itu bentuk cinta, agar pemimpin kita tetap berada di rel yang benar.”

Menurutnya, seorang pemimpin yang juga ulama memikul dua amanah besar: amanah dunia dan amanah akhirat.

Jika ia Adil dan Amanah, maka Allah akan memuliakannya. Namun jika ia lalai, maka bukan hanya jabatannya yang hancur, tapi juga kepercayaan umat.

Rakyat Subulussalam berharap Walikota yang juga seorang ustadz itu memimpin dengan hati dan ketakwaan, bukan dengan ambisi kekuasaan.

“Setelah jabatan usai, yang tersisa bukan kursi atau kekayaan, tapi nama baik dan doa rakyat,” ujar seorang warga menutup percakapan.

Sebagaimana pesan Umar bin Khattab yang abadi:

” Tidak ada kebaikan pada rakyat yang tidak mau menasihati pemimpinnya, dan tidak ada kebaikan pada pemimpin yang menolak nasihat rakyatnya.”

Kini, di Kota Subulussalam, nasihat itu menggema kembali – bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menjaga agar pemimpin tetap dalam cahaya kebenaran.*
Dedi F.Bancin

 

Editor : Zul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *